Dunia racing emang ga ada matinya. Piston atau seher 4-tak biasanya dilengkapi dengan 3 ring. Dua ring piston untuk menahan kompresi dan satunya lagi untuk menyapu oli dari liner. Makanya dianggap kelewat banyak ring yang justru memperbesar gesekan. Ujung-ujungnya bisa mengurangi tenaga mesin dan tidak efisien.
Kini tersedia piston 4-tak yang hanya 2 ring piston, seperti ring piston di motor 2-tak. Tapi yang ini satu ring kompresi dan satunya lagi ring untuk penyapu oli. Fungsinya agar gesekan lebih ringan dan tenaga mesin tidak berkurang banyak.
Kelebihan lain seher ini mempunyai dome yang tinggi. Sehingga kompresi motor bisa dibikin besar. Jika mau dikecilin tinggal dipapas.
Enaknya lagi kini tersedia hampir untuk semua tipe motor. Bahkan bukan untuk yang standar.Misal buat Yamaha Mio atau Nouvo banyak untuk bore up Tersedia dari ukuran standar sampai ukuran 73mm dengan pin 15mm juga ada.
Selamat Datang
Silakan Menikmati Blog Kami
About Me
- OLI MOTOR
- Oli Motor adalah suatu usaha yang bergerak dibidang roda dua. Oli Motor berdiri pada tahun 1984. Sejak tahun 1991 Oli Motor telah berkembang menjadi jaringan 2S(Service & Spare Part).Oli Motor dipimpin oleh Putu Tanaya,SE dan dibantu oleh istri. Pada tahun 1991 s/d 1999 Oli Motor juga sempat di dunia balap seperti Road Race & Grasstrack,dengan pembalap Kadek Sanjaya.Pada saat itu tidak sedikit trofi kemenangan yang kami koleksi. Saat ini kami merekrut orang yang mengerti tentang IT untuk mendukung promosi bengkel kami lewat Blog ini. Semua posting yang nantinya diisi hasil riset kami dibantu oleh mekanik Suzuki Jayadi Jakarta(Ahmad Jayadi) dan juga hasil kliping dari tabloid Motor Plus
Thursday, 14 May 2009
Wednesday, 29 April 2009
Penentu Karakter Mesin
Jika melihat spesifikasi teknik mesin, terdapat istilah diameter seher x stroke. Stroke disebut juga langkah naik turun seher dari TMA dan TMB. Dari rasio antara diameter(bore) dan langkah (stroke) ketahuan sifat mesin. Oversquare jika bore dibagi stroke angkanya lebih dari 1. Tapi jika bore dibagi stroke angkanya kurang dari 1 maka disebut undersquare. Klo ukuran bore dan stroke sama namanya square.
Kini bicara tentang karakter mesin oversquare dibanding undersquare. Contohnya mesin oversquare Suzuki Smash 110. Sedang mesin undersquare ada di Honda Supra. Mesin oversquare disebut rasio positif, karena stroke pendek friksi atau hambatan geseknya kecil. Kerja kruk as jadi lebih ringan.
Selain itu mesin oversquare lebih awet. Cukup dengan sedikit teknologi atau dikorek kecepatannya bisa lebih tinggi dari mesin undersquare.
Namun mesin oversquare dibanding torsinya di kecepatan rendah lebih kecil ketimbang mesin undersquare. Ini karena torsi didapat dari daya yang dihasilkan oleh lontaran bandul kruk as. Makin jauh dari titik pin setang piston ke poros kruk as, atau panjang langkahnya torsi makin besar
Kini bicara tentang karakter mesin oversquare dibanding undersquare. Contohnya mesin oversquare Suzuki Smash 110. Sedang mesin undersquare ada di Honda Supra. Mesin oversquare disebut rasio positif, karena stroke pendek friksi atau hambatan geseknya kecil. Kerja kruk as jadi lebih ringan.
Selain itu mesin oversquare lebih awet. Cukup dengan sedikit teknologi atau dikorek kecepatannya bisa lebih tinggi dari mesin undersquare.
Namun mesin oversquare dibanding torsinya di kecepatan rendah lebih kecil ketimbang mesin undersquare. Ini karena torsi didapat dari daya yang dihasilkan oleh lontaran bandul kruk as. Makin jauh dari titik pin setang piston ke poros kruk as, atau panjang langkahnya torsi makin besar
Wednesday, 15 April 2009
Vega korek Harian 120cc
Gw punya motor Vega tahun 2003. Susah juga kalau lagi jauh dari bengkel kesayangan, ya seperti Suzuki Jayadi yang para mekaniknya uda ngerti maunya motor gw. Motor gw selama ini dikorek oleh Ajat Sudrajat salah satu mekanik Suzuki Jayadi. Sebenarnya korekan harian tapi cukup untuk ngelawan Jupiter MX. Piston pakai ukuran 5,325 mm dan stroke masih standar 5,4 mm, jadi isi silinder Vega gw 120 cc. Noken as di papas 0,5 mm dan klep in 25 mm, klep out 22 mm dibantu per klep dari HRP. Kompresi jd 10,8:1. Untuk pengapian diambil merk CDI Varro, Koil Blue Thunder dan busi Denso Iridium. Supaya tarikan makin oke, kopling di ganti manual diisi dengan kampas kopling BRT dan per kopling HRP. Pakai Karbu RX King untuk menunjang cc motor yang uda besar.
Untuk pembuangan gas bakar pakai knalpot AHRS F3 series. Dengan knalpot itu tarikan bawah jadi galak dan atasnya pun ga ada matinya. Bagusnya lagi knalpotnya mampu bikin tendangan balik, tapi suara motor juga jadi kayak motor underbone 4-tak 125cc, pokoknya sangar abis.
Terakhir gw coba tes dengan Jupiter MX, hasilnya tuh MX kalah 2 bodi motor.
Korekan Suzuki Jayadi AJM emang oke banget, top markotop
Pilih Sesuai Kebutuhan
Hadirnya noken as atau kem racing dipasaran kadang bikin bingung pecinta kebut. Produk ini banyak dijual dengan iming-iming bikin motor kencang. Agar gampang kudu paham dulu batasan kencangnya motor yang diinginkan. Maksudnya untuk korek harian atau kompetisi. Pasalnya, karakter tiap kem yang ditawarkan berbeda.
Apalagi tidak jarang juga produk itu tak mencantumkan ubahan kem atau spek dikemasan. Jadi bikin tambah bingung kan? Sebagai patokan untuk kohar (korek harian) biasanya bermain diangka 280 derajat. Beda dengan tipe kompetisi yang banyak main diangka 330 derajat.
Kalau kem WRD emang untuk kohar jadi durasinya sekitar 270-280 derajat.
Makin besar durasi, membuat noken as membuka lebih lama. Kem itu lebih cocok buat karakter motor yang menginginkan top speed.Ubahan ini condong membuat mesin bermain diputaran menengah ke atas.
Nah mengapa durasi 280 derajat lebih cocok untuk kohar? Sudah tahu donk jawabannya, karena lebih cepat menutup dan membuka tentu ini berpengaruh pada akselerasi. Sebab lbih bermain diputaran menengah ke bawah. Sesuai dengan kondisi lalu lintas yang stop & go. Buat kohar berpatokan pada prinsip plug & play alias pasang dan tinggal bejek gas aja. Karena tidak butuh ubahan ekstrem, maka durasi kem lebih bermain pada durasi 280 derajat.
Klep buang membuka 60 derajat sebelum TMB dan menutup 40 derajat setelah TMA. Durasinya 60+40+180=280. Sedang buat intake membuka 40 derajat. sebelum TMA dan menutup setelah 80 derajat TMB. Durasinya jadi 300 derajat.
Apalagi tidak jarang juga produk itu tak mencantumkan ubahan kem atau spek dikemasan. Jadi bikin tambah bingung kan? Sebagai patokan untuk kohar (korek harian) biasanya bermain diangka 280 derajat. Beda dengan tipe kompetisi yang banyak main diangka 330 derajat.
Kalau kem WRD emang untuk kohar jadi durasinya sekitar 270-280 derajat.
Makin besar durasi, membuat noken as membuka lebih lama. Kem itu lebih cocok buat karakter motor yang menginginkan top speed.Ubahan ini condong membuat mesin bermain diputaran menengah ke atas.
Nah mengapa durasi 280 derajat lebih cocok untuk kohar? Sudah tahu donk jawabannya, karena lebih cepat menutup dan membuka tentu ini berpengaruh pada akselerasi. Sebab lbih bermain diputaran menengah ke bawah. Sesuai dengan kondisi lalu lintas yang stop & go. Buat kohar berpatokan pada prinsip plug & play alias pasang dan tinggal bejek gas aja. Karena tidak butuh ubahan ekstrem, maka durasi kem lebih bermain pada durasi 280 derajat.
Klep buang membuka 60 derajat sebelum TMB dan menutup 40 derajat setelah TMA. Durasinya 60+40+180=280. Sedang buat intake membuka 40 derajat. sebelum TMA dan menutup setelah 80 derajat TMB. Durasinya jadi 300 derajat.
Wednesday, 1 April 2009
Tidak Selalu Soal Durasi
Mekanik road race mulai paham efisiensi volumemetrik. Yaitu persentase gas campuran bensin-udara yang bisa masuk ke dalam silinder. Guna mengejar itu kem dimainkan. Tapi tidak hanya durasi atau lama bukaan klep yang disasar. Harus dipadukan dengan tinggi angkatan klep atau lift. Ukiran kem yang oke harus punya durasi yang lama & tinggi angkatan klep yang lama juga.
Jadi, percuma kalau durasi lama tapi lift tidak lama tingginya. Artinya ngebuka lama tapi lift tertinggi cuma sebentar. Selanjutnya juga mesti paham soal garfik tinggi angkatan klep. Apalgi sangat langka buku yang menjelaskan tentang hal ini.
Padahal, perbedaan tinggi grafik angkat klep juga memberi efek beda. Meski patokan derajat buka tutup kem sama.
Jika dipahami betul hitungan ini, maka bubutan tidak selalu di pantat atau di poros kem. Tapi bisa juga ke bagian lain termasuk ujungnya. Juga tidak sekedar patok lift setinggi-tingginya. Selain per klep bekerja terlalu berat, juga belum tentu efektif. Artinya, meski lift tidak terlalu tinggi, tapi grafik lama tingginya efektif. Bukan tidak mungkin efisiensi volumemetrik-nya lebih bagus.
Disitu dituntut mekanik mencari angka ideal untuk semuanya. Tidak bisa semua motor sama. Ada banyak pertimbangan, misal diameter torak, langkah torak, diameter klep, kompresi, ukuran knalpot dan karakter sirkuit. jadi faktor yang menentukan.
Kalau cara untuk mengecek pangkasan cukup mudah. Dilihat dari pergerakan setiap derajat pada saat klep dipasang, dengan putaran gigi sentris. Itu cara termudah. Lihat titik lift dan putar terus. Berapa derajat klep itu bertahan di puncak sebelum berubah.
Jadi, percuma kalau durasi lama tapi lift tidak lama tingginya. Artinya ngebuka lama tapi lift tertinggi cuma sebentar. Selanjutnya juga mesti paham soal garfik tinggi angkatan klep. Apalgi sangat langka buku yang menjelaskan tentang hal ini.
Padahal, perbedaan tinggi grafik angkat klep juga memberi efek beda. Meski patokan derajat buka tutup kem sama.
Jika dipahami betul hitungan ini, maka bubutan tidak selalu di pantat atau di poros kem. Tapi bisa juga ke bagian lain termasuk ujungnya. Juga tidak sekedar patok lift setinggi-tingginya. Selain per klep bekerja terlalu berat, juga belum tentu efektif. Artinya, meski lift tidak terlalu tinggi, tapi grafik lama tingginya efektif. Bukan tidak mungkin efisiensi volumemetrik-nya lebih bagus.
Disitu dituntut mekanik mencari angka ideal untuk semuanya. Tidak bisa semua motor sama. Ada banyak pertimbangan, misal diameter torak, langkah torak, diameter klep, kompresi, ukuran knalpot dan karakter sirkuit. jadi faktor yang menentukan.
Kalau cara untuk mengecek pangkasan cukup mudah. Dilihat dari pergerakan setiap derajat pada saat klep dipasang, dengan putaran gigi sentris. Itu cara termudah. Lihat titik lift dan putar terus. Berapa derajat klep itu bertahan di puncak sebelum berubah.
Lebih Sip Ganti Kem
Kunci 4-tak bertenaga paling penting pada profil kem. Motor harian standar tidak perlu neko-neko. Cukup ganti kem, tenaga langsung melonjak 1,2 dk. Angkanya 3 kali lipat dibanding ganti knalpot racing atau 4 kali lipat dibanding ganti CDI racing. Terbukti dari hasil Dynotest.
Disini saya menggunakan kem buatan TDR, Motor yang saya gunakan Supra. Pertama dites dengan menggunakan knalpot standar, spuyer standar, kem standar & CDI standar. Tenaga cuma 5.69 dk. Setelah itu kem standar diganti dengan kem TDR untuk harian & tidak mengganti apapun, tenaga mesin menjadi 6,7 dk.
Klo dilihat dari grafiknya tenaga di RPM bawah masih ngedrop, oleh karena itu harus menaikkan pilot jet jadi 1 step. Setelah ganti kem dilakukan penggantian knalpot racing tenaga naik jd 7,2dk. Tentunya torsi pun jadi meningkat.
Setelah ganti kem & knalpot dilakukan juga penggantian CDI BRT racing. Tenaga akhir didapat 7.39 dk
Disini saya menggunakan kem buatan TDR, Motor yang saya gunakan Supra. Pertama dites dengan menggunakan knalpot standar, spuyer standar, kem standar & CDI standar. Tenaga cuma 5.69 dk. Setelah itu kem standar diganti dengan kem TDR untuk harian & tidak mengganti apapun, tenaga mesin menjadi 6,7 dk.
Klo dilihat dari grafiknya tenaga di RPM bawah masih ngedrop, oleh karena itu harus menaikkan pilot jet jadi 1 step. Setelah ganti kem dilakukan penggantian knalpot racing tenaga naik jd 7,2dk. Tentunya torsi pun jadi meningkat.
Setelah ganti kem & knalpot dilakukan juga penggantian CDI BRT racing. Tenaga akhir didapat 7.39 dk
Tuesday, 31 March 2009
Kencang Tapi Irit Bensin
Motor balap atau motor korek harian identik dengan boros bensin, padahal tidak juga asal tau ngorek aja. Belajar dari pengalaman biasanya beberapa orang takut untuk korek motornya karena boros bensin. Cara mengakalinya suplai gas bakar dibiarkan seperti motor standar. Namun pembuangan diperlancar. Setelah ganti knalpot harian, pantat kem buang dipapas sedikit. Cara ini ditempuh agar ruang bakar bersih dari asap hasil pembakaran.
Jika gas hasil pembakaran terbuang sempurna, bakal mempermudah masuknya gas baru. Juga pembakaran tidak terganggu asap. Gas campuran bensin-udara mudah dipantik api busi. Ditransfer jadi tenaga semua. Begitu logikanya.
Untuk itu pantat kem buang dipapas 0,4mm. Sekalian atur durasinya agar klep buang membuka lebih awal. Sekalian naikkan pilot jet karena knalpot sudah ganti racing. Sekitar 1-3 step angka naiknya.
Kalau masih tetap boros jangan takut karena bisa diakali lewat posisi klip di jarum skep tempatkan di nomor 2 dari atas. Kan asalnya di tengah atau nomor 3. Biar irit diturunkan jadi nomor 2.
Janagn lupa sekrup penyetel udara diset ulang
Jika gas hasil pembakaran terbuang sempurna, bakal mempermudah masuknya gas baru. Juga pembakaran tidak terganggu asap. Gas campuran bensin-udara mudah dipantik api busi. Ditransfer jadi tenaga semua. Begitu logikanya.
Untuk itu pantat kem buang dipapas 0,4mm. Sekalian atur durasinya agar klep buang membuka lebih awal. Sekalian naikkan pilot jet karena knalpot sudah ganti racing. Sekitar 1-3 step angka naiknya.
Kalau masih tetap boros jangan takut karena bisa diakali lewat posisi klip di jarum skep tempatkan di nomor 2 dari atas. Kan asalnya di tengah atau nomor 3. Biar irit diturunkan jadi nomor 2.
Janagn lupa sekrup penyetel udara diset ulang
Tuesday, 24 February 2009
Korek Harian 4-Tak (Kem)

Batasan Korek Kem
Korek harian sah-sah saja korek kem. Bisa dipangkas atau diganti dengan kem modif. Tapi tentunya tidak ekstrem sepertinya halnya di balap. Korek harian sangat butuh ketahanan mesin. Lagian sebagian komponen masih menggunakan standar.
Olah kem, langkah pertama yang perlu diperhatikan adalah tentukan dulu tinggi angkatan klep(lift). Tidak perlu tinggi-tinggi. Makin tinggi lift maka per klep akan makin tertekan. dipake harian pastinya boros per klep.
Rumusnya, tinggi lift cukup 30% x diameter payung klep in. Misal untuk Shogun 110, lift max 30% x 25mm=7,5mm
Cara pangkasnya, setengah badan kem, yaitu pada bagian bawah atau yang gemuk, dikikis rata seluruh bagian. Jangan sekali-kali ubah bagian pucuk kepalanya. Karena akan mengubah lube center(LC)
Apa itu Lube Center?LC adalah derajat dari titik mati atas menuju puncak bumbungan kem.
Lanjut ke pangkasan cari lift, ambil contoh kem Shogun 110 pangkas 0,8mm. Hasil lift jadi 6,6mm. Tinggal hitung persamaannya kalau mau pangkas lebih.
Lanjut ke durasi yang tidak butuh waktu terlalu lama. Itu justru tidak efisien. Lagi-lagi karena komponen lain masih menggunakan standar. Cukup 300derajat.
Untuk menentukan bukaan klep in, pakai rumus patokan durasi dibagi 2 dikurangi LC. Misal yamaha Vega dengan LC 102mm ingin dicari dengan bukaan 300derajat. Maka bukaan klep in adalah (300/2)-102=48derajat sebelum Titik Mati Atas (TMA). Klep masuk menutup dicari dengan rumus, durasi-180-bukaan in, atau 300-180-48=72derajat setelah Titik Mati Bawah(TMB).
Untuk klep buang tinggal dibalik cara hitungnya. Buka 72derajat sebelum TMB, nutup 48derajat setelah TMA. Cara pangkasnya, kikis pinggang bagian atas kearah kepala kem. Cukup disesuaikan dipangkas secara bertahap, lalu dicek sampai ketemu durasi yang diinginkan. Tapi harus tahu dulu posisi top atau TMA di kem.
Ingat pangkasan juga harus rata dan sesuai profil kem . Kalau tidak sesuai dampak akan terasa . Pembakaran akan tidak sempurna dan mesin tidak mau kencang juga menimbulkan banyak kerak di ruang bakar.
Kemudian untuk mendeteksi fungsi per klep bisa dicek lewat gigi sentrik. Rasakan saat diputar kalau dirasa ada hambatan berarti per klep tidak main. Harus diganti karena rawan klep telat balik atau overlap
Subscribe to:
Posts (Atom)

